Rabu, 13 April 2016

Membaca, Baca Problematika dan Peluang

Diawal abad  20, tepatnya pasca perang dunia ke 2. Amerika Serikat tumbuh menjadi negara adikuasa, kekuatan militer yang tangguh dengan persenjataan yang unggul akan kualitas dan kuantitas menjadikan Amerika Serikat menjadi negara yang disegani pada saat itu. Perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana segannya negara-negara lain akan Amerika,secara kuantitas penerimaan devisa negara Amerika Serikat terbesar berasal dari kegiatan ekspor disektor persenjataan yang kemudian disusul oleh sektor perfilman  , kemudian secara kualitas Pentagon yang merupakan departemen pertahanan Amerika menjadi institusi pemegang hak cipta terbanyak di dunia dimana sebagian besar penemuannya di bidang persenjataan. Dan salah satu karyanya yang dapat kita rasakan saat ini yaitu Internet.

Berawal dari penembakan dua kapal pesiar Amerika di tembaki oleh kapal-kapal patroli Vietnam Utara di Teluk Tonkin pada tanggal 2 Agustus 1964, menyulut kegeraman Presiden Kennedy untuk menyerang Vietnam. Sekitar 2,7 Juta pasukan dikirim ke Vietnam untuk menguasai daerah tersebut. akan tetapi dengan pasukan yang banyak dan kuat serta disukung oleh kekutan persenjataan yang unggul, pada akhir kisah ditaklukkan oleh pasukan gerilyawan Vietcong.

Kemudian menjadi pertanyaan besar. Bagaimana bisa sebuah negara baru di Asia bagian tenggara sana mbisa mengalahkan Amerika yang memiliki kekuatan militer yang tangguh? Kira-kira apa yah? Untuk menjawabnya mari kita bantu pak Tarno untuk menemukan jawab tersebut. Sim-Salabim jadi apa prok-prok......!!!!!

“Gara-Gara Indonesia” buku karya Agung Pribadi menjawab bahwasanya, Dengan membaca sebuah buku karangan Jendral A.H. Nasution yang berjudul “Pokok-Pokok Perang Gerilya” . pemimpin gerilyawan Vietcong menganalisa problematika kondisi alam dan masyarakat Vietnam yang memiliki kesamaan dengan Indonesia kemudian diterwanglah sebuah peluang dengan menetapkan strategi yang tepat berdasarkan buku karya Jendral Besar Bintang Lima itu, dan terbukti ampuh mengusir penjajah dari tanah Vietnam.

Sebuah kisah inspiratif sarat makna bagi kita anak muda modern saat ini. dari kisah tersebut kita mengajarkan kita artinya kenyamanan kesempurnaan cinta maksud  penulis mengajarkan kita akan urgensi dari membaca buku.

Seringkali kita dengarkan sehingga tidak asing lagi bagi kita dengan kalimat “Buku adalah Jendela Dunia” , yapss kalimat itu bukan hanya sebuah kalimat pajangan yang hanya mewarnai cat putih tembok sekolah. Akan tetapi sebuah kalimat yang dapat dibuktikan dengan kisah heroik pasukan gerilyawan Vietcong. “ membacalah maka dunia akan membacanmu” dengan membaca karangan A.H. Nasution, para gerilyawan Vietcong dibaca pleh masyarakat dunia sebagai pahlawan kemerdekaan Vietnam..


Demikianlah, faedah membaca yang dapat diketahui. Sehingga dengan hikmah yang tersarikan mengajak anda-anda dan saya untuk membiasakan atau membudayakan membaca buku untuk dapat mengidentifikasi problem serta menemukan sebuah peluang.Berbicara mengenai budaya membaca buku di Indonesia sungguh memiriskan. Menurut data yang dikeluarkan oleh UNESCO presentase minat baca Indonesia sebesar 0.001% ini artinya dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Budaya membaca buku warga Indonesia lebih rendah dibanding dengan wilayah Asia atau Eropa terutama Amerika. Perbandingannya jika di Amerika Serikat satu penduduk bisa sampai 20 hingga 30 judul buku yang dibaca. Di Jepang antara 10 hingga 15 buku yang dibaca, di Asia 1 hingga 3 buku. Sementara di Indonesia 0 sampai 1 buku setiap tahunnya yang dibaca. (Source : https://kitabisa.com/angkringanpustaka?ref=a189&utm_source=direct&utm_medium=usershare&utm_campaign=userreff )


Dilain sisi menuju Indonesia Emas 2045 seperti yang banyak dislogankan saat ini, Indonesia memiliki permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks yang harus dapat kita temukan solusinya. Permasalah  dibeberapa aspek seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan energi  menjadi buntelan kotor yang harus segera dibersihkan serta dirapikan hingga Indonesia 2045 yang humanis dan yang idealkan dapat tercapai. Secara mutlak, disyaratkanlah untuk menjawab permasalahan dimultiaspek tersebut adalah dengan munculnya sekelompok anak bangsa yang  berpikiran bebas, berbudi tinggi dan berpengatahuan luas. Yang kesemuanya itu didasari oleh Budaya Membaca.

Semoga dengan tulisan ini yang agak berantakan ini bisa memunculkan budaya membaca bagi kita semua. Sehingga dengan iu permasalahan yang hadapi bangsa ini dapat didapatkan solusinya. BUKU TEBAL AJA ABANG BISA PAHAMI, APALAGI MEMAHAMI HATI ADEK. (EAAAAAKKKK)kalimat penutup kita yang penulis ambil  disply picture di timelime BBM.
 

4 komentar: