Selasa, 12 Mei 2015

Mengungkap Kekayaan Intelektual Muslim yang di Klaim Barat




Dewasa ini, masyarakat dunia menganggap bahwa  Islam merupakan kelas kedua dari setelah barat. Hal ini disebabkan karena Barat dengan moderinitasnya sangat maju akan teknologi dan sainsnya dibandingkan dengan Islam yang kemudian dianggap sebagai kaum yang anti dengan inovasi dan hanya menimati kreativitas-kreativitas dari Barat.

Anggapan seperti ini tidak hanya bagi orang-orang Barat saja tetapi sebagian dari umat muslim pun mengakui bahwa selama ini Islam adalah kelas kedua atau kelas terbawah dari golongan barat. Sebagian dari kita beranggap hal ini bisa diterima karena didalam bangku sekolahan kita hanya selalu mendengar beberapa ilmuwan-ilmuwan Sains mayoritas berasal dari bangsa barat. Sebut saja seperti Albert Einstein yang terkenal dengan manusia cerdas perumus teori relavitas, Nicolaus Copernicus seorang yang memperkenal teori bahwa bumi ini bulat bukan datar seperti banyak yang pahami masyarakat dunia pada saat itu, Sir Isaac Newton yang didalam mata pelajaran Fisika dikenal sebagai penemu gaya gravitasi.dll.

Adapun para Ilmuwan muslim sangat jarang kita ketahui, sehingga masyaralat dunia memiliki stereotip terhadap Islam sebagai kaum yang miskin akan inovasi dan hanya penikmat sejati atas inovasi dan  kreativitas bangsa barat selama ini. Dalam artian bahwa sejak lahirnya islam pada masa Rasulullah SAW hingga saat ini tidak pernah mewariskan peninggalan terhadap sains dan teknologi. Kecuali hanya ajaran-ajaran agama yang bersifat kerohanian.

Tetapi jika kita kembali mengkaji sejarah atas apa yang disangkakan kaum barat kepada umat Islam. Maka anggapan tersebut hanyalah kebohongan yang diatur secara sistematis untuk menghilangkan jejak Islam atas perkembangan sains dan teknologi dimuka bumi ini.

Sejarah secara objektif mengungkap bahwa Pradaban Barat tidak akan maju seperti saat ini tanpa campur tangan muslim. Oleh karena itu, melihat fenomena ini penulis melalui artikel ini akan membagi pengetahuan tentang rekayasa sejarah peradaban sains Islam yang diselewengkan oleh Barat

Kebangkitan dan Kejayaan Islam
Bermula munculnya dominasi kekuatan agama menguasai  Eropa membawa dimensi kehidupan baru menuju masa kegelapan di Barat, tepatnya pada 4 September 476 saat dijatuhkannya Romolus Agustus oleh Odoacer sebagai kaisar Romawi Barat. Kegelapan yang terjadi di Eropa atau yang dikenal sebagai  Dark Ages (abad kegelapan) mempengaruhi kemunduran segala aspek kehidupan di Eropa, hal ini disebabkan oleh ketatnya pengawasan pendeta-pendeta gereja atas pemikiran masyarakat. Akibatnya selama 6 Abad lamanya para Ilmuwan yang dimiliki Bangsa Barat sama sekali tidak menghasilkan karya.

Disaat Eropa berada pada abad kegelapan, tidak lama berselang dunia Islam justru mengalami masa kejayaan yang ditandai dengan munculnya beberapa Ilmuwan muslim saat itu. Sebut saja Al-Kindi yang mencetuskan teori relavitas, Jabar ibn Hayyan seorang ilmuwan kimia yang pertama kali mengenalkan tentang Bioetanol yang saat ini dibeberapa negara dibelahan dunia digunakan sebagai campuran penghemat bahan bakan minyak untuk kendaraan, Al-Khawarizmi ilmuwan matematika yang memberikan solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat yang dimuat dalam kitab al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala atau yang dikenal Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan, dan juga tak kalah hebatnya yaitu Ibnu Sina yang dikenal Avicenna dibarat karena kontribusinya dalam dunia kedokteran hingga diberi julukan sebagai Bapak pengobatan modern.

Didalam buku “Menguak Fakta Sejarah Penemuan Sains dan Teknologi Islam yang diklaim Barat” karya Abdul Waid disebutkan beberapa faktor kemajuan Islam yang menghasilkan Ilmuwan hebat diantaranya; Pertama,Penggalian Ilmuwan Muslim terhadap Al-Qur’an, Pada 650-1000 M saat kebangkitan Islam Ilmuwan muslim banyak menggali Al-Quran sebagai petunjuk dalam bidang sains. Kedua, Pemerintahan yang moderat, yaitu adanya kebebasan dan keadilan sebagai faktor stabilitas pemerintahan yang  kuat atau didalam pengangkatan perangkat kerja tidak memandang unsur kesamaan golongan,serta kepentingan akan tetapi menganut prinsip “The right man for the right place” Sehingga ilmuwan memiliki kebebasan dalam berkarya,berekspresi serta bereksperimen. Ketiga,Kejayaan ekonomi, munculnya ilmuwan hebat tidak terlepas dari peranan pemimpin dalam menjadikan kekuatan stabilitas ekonomi dalam memajukan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Keempat, Budaya Menerjemah dikalangan Ilmuwan muslim, disini secara tersirat tentang esensi penguasaan bahasa dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan. Dan yang Kelima, adalah maraknya pembangunan perpustakaan.

Tetapi kejayaan intelektual yang Islam miliki seiring waktu juga seakan memudar setelah dibeberapa tempat seperti Baghdad,Mesir,Mongol dan Andalusia  mengalami kemunduran dimana dari keempat tempat tersebut adalah pusat keilmuwan saat kejayaan Islam dan juga tempat para ilmuwan hebat melakukan berbagai eksperimentasi.


Proses Klaim Barat
Disaat Islam mengalami kemunduran, Barat dengan pengalaman dan keilmuwan yang didapat   dari interaksinya disaat muslim jaya mulai melancarkan aksinya dalam pengklaiman hak-hak intelektual muslim dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan menduplikasi keilmuwan muslim tanpa mencantumkan asal pemikiran tetapi mengganti dengan nama-nama Ilmuwan eropa yang hanya sebagai penciplak atas pemikiran-pemikiran ilmuwan muslim. Seperti yang dilakukan oleh Robert Bacon seorang pendeta yang lama belajar di salah satu Universitas Islam di Andalusia mendalami bahasa Arab sebagai bahasa keilmuwan saat itu sehingga dengan menguasai Bacon dapat menguasai keilmuwan lainnya. Salah satu yang dikenal dari Robert Bacon adalah sebagai pencetus teori mikroskop, julukan tersebut diberikan setelah Bacon menerjemahkan kitab Al-Manadzir karangan Ali al-Hasan Ibnu Haitsam , didalam karagan itu Bacon mencatatkan dirinya sebagai pioner teori mikroskop dan menghapuskan Ali al-Hasan Ibnu Haitsam sebagai pencetusnya. Lain lagi yang dilakukan oleh Simon Stevin yang memanfaatkan interaksinya dengan Islam saat terjadi perang salib untuk mengklaim dirinya sebagai ilmuwan pertama yang yang menggunakan dan menggunakan sistem desimal, padahal jauh sebelum klaim Simon atas karya palsunya Ilmuwan muslim Al-Kashi telah terlebih dahulu mencetuskan  aplikasi sitematis sistem desimal.

Karya Fenomenal yang diklaim Barat
Salah satu karya ilmuwan muslim yang diklaim dan sampai saat ini masyarakat dunia bahkan generasi muslim belum mengetahui kebenarannya dalah tentang teori gaya gravitasi bumi. Di bangku sekolahan ketika kita belajar tentang gaya gravitasi maka yang dikenal sebagai ilmuwannya adalah Isaac Newton . dengan buku karangannya Philisophie Naturalus Principa Mathematica telah menyakinkan masyarakat dunia bahwa Newton penemu gaya gravitasi bumi, sehingga karangan Newton tersebut diklaim sebagai buku fisika yang paling berpengaruh yang kemudian mengokohkan citra Barat sebagai bangsa yang produktif dalam sumbangsi ilmu pengetahuan.
Konsep gravitasi bumi yang diungkapkan oleh Newton bermula dari pengamatannya terhadap buah apel yang jatuh ketanah dan pengamatan terhadap gunung, didalam dugaannya Newton berpikir bahwa gravitasi terdapat dipucuk pohon apel dan gunung sehingga ia mengambil kesimpulan bahwa gerak jatuh benda dan gerakan planet hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Atas dasar teori ini kemudian ia mempublikasikan pengamatannya dan hasilmay oleh para pengamat dianggap tidak rasional.

Dilain sisi 500 tahun tahun sebelum Newton mempublikasikan penemuannya, Al-Biruni ilmuwan muslim telah merumuskan teori gravitasi bumi sekaligus memperkenalkan beat jenis dalam perhitungan untuk menghasilkan hitungan yang akurat,Sehingga konsep ini yang sangat relevan dengan keyakinan para Ilmuwan bahwa seluruh benda ditarik oleh gaya Gravitasi.

Tetapi kitab Mizanul Hikmah karya Ilmuwan Muslim Al-Biruni yang berisi pandangan tentang gravitasi lenyap entah kemana yang kemungkinan sengaja dilakukan Barat unuk menghilangkan fakta sejarah dan memperkokoh citra Isaac Newton sebagai penemu teori gravitasi bumi menggantikan nama Al-Biruni sebagai penemunya
.
Hikmah

Dari beberapa pemaparan diatas, mulai saat ini kita seharusnya bertekad unuk menjadi duta Islam yang menyampaikan kebenaran atas anggapan masyarat luas terkait posisi Islam sebagai kelas kedua dari barat. Dan tak kalah pentingnya adalah tugas generasi muslim saat ini untuk memecahkan keheningan akan karya-karya Sains dan Teknologi serta kembali menjadikan Islam sebagai kiblat ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah dicapai para ilmuwan terdahulu, tentunya untuk mencapai mimpi tersebut kita harus menyatukan langkah untuk mengajak semua elemen umat muslim baik yang itu mereka yang saat ini memegang kekuasaan di pemerintahan untuk mengedepankan prinsip moderat serta membangun fasilitas perpustakaan, juga para ulama untuk memberikan bimbingannya dalam mengkaji Al-Quran dan kita sebagai pelajar harus memiliki semangat yang top untuk menjadi penggerak kemajuan Islam dan menjadikan islam rahmatan lil-alamin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar