Saya yakin, bahwasanya
secara teoritis didalam berkehidupan berkebangsaan telah mengetahui semboyan
Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat atas perbedaan yang ada dan hadir
disekitaran kita. Perbedaan yang ada baik itu perbedaan
budaya,bahasa,dialek,warna kulit,wajah,dan agama adalah sebuah realita yang
menjadi satu identitas dari sebuah negara yang bernama Indonesia.
Munculnya perbedaan-perbedaan
tersebut tak terlepas dari letak geografis Indonesia yang berada pada jalur
lintasan antara benua, bagaimana para pedagang dari Mediterania melakukan perjalanan
ke Cina melalui Indonesia juga pun demikian sebaliknya sehingga terjadinya proses
dialektika hubungan internasional. Selain itu sejak zaman abad 2 masehi daerah
nusantara telah dikenal dengan Ptolemy yang berarti pulau emas sebagaimana
tertulis pada kitab Algamest karangan penulis Yunani, yang menjadi daya tarik
para pengusaha atau pedagang menuju ke Nusantara. Atas dasar itu kemudian
beberapa diantara mereka melakukan pernikahan dengan orang Nusantara pda saat
itu, sehingga saat in wajar jika masyarakat kita plural satu sama lain tidak
sama atau berbeda karena secara historis Indonesia dulunya disinggahi oleh beberapa
orang dari beragam bangsa yang ada dunia.
Bhineka Tunggal Ika, menjadi
sebuah semboyan yang memiliki makna filosofis mendalam dan dapat menyatukan
antara satu sama lain, antara si China dan si Arab, si Jawa dan Batak, Melayu
dan Bugis juga Papua, serta aku dan kamu. Semboyan itu pula menginginkan agar
bagaimana perbedaan tersebut dapat berjalan harmonis dan dipayungi atas dasar
nasionalisme.Olehnya itu keberagaman
tersebut harus dijaga dengan baik jangan sampai kita membiarkan itu terpecah
belah. Karena ini merupakan kekayaan bangsa Indonesia .
Dengan jumlah penduduk
sebanyak 253,60 juta jiwa, Kita menjadi negara ke 4 berpenduduk terbanyak
setelah China, India, dan Amerika Serikat. Dan dari jumlah penduduk yang besar
itu Agama Islam menjadi agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia
diharapkan dapat memberikan kedamaian dan ketentraman yang didasari oleh rasa
cinta kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia atau yang dikenal guna mensyiarkan
Islam Rahmatan Lil-Alamin.
Akhir-akhir ini bisa
kita lihat dengan beberapa kasus pembakaran rumah ibadah, pengusiran penduduk
dari kampung halaman karena berbeda
faham keagamaan, menghentian proses ibadah juga saling lempar
maki-makian di media sosial antara penganut agama yang berbeda juga golongan
yang memperlihatkan sikap kita yang bisa menerima adanya perbedaan dilingkungan
sekitar.
Dengan itu, penulis
mencoba untuk memberikan sebuah cara bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai
orang muslim yang berangkat dari pemikiran Bapak Nurcholis Madjid dan Gus Abdurrahman
Wahid. Dari Cak Nur saya belajar mengenai cara bersosial yang menurut penulis
itu sangat baik dan aktual dengan saat ini, bahwasanya didalam kehidupan ini
kita memiliki hubungan Teorentrisme yaitu bagaimana kita berhubungan Allah
sebagai tuhan yang diyakini serta hubungan Antropolosentrisme bagaimana kita
berhubungan dengan manusia. Saat kita berada dihadapan tuhan, menjadi barang
yang final bahwa keyakinan kita Islam sebagai ajaran yang benar yang mewajibkan
untuk mengimani Allah, adapun disaat ini bersama manusia kita harus mencari
sebuah kebenaran yang sama bagaimana menciptakan sebuah tatatan kehidupan yang
baik, harmoni, tanpa da rasa benci satu sama lain.
Dengan demikian, ketika
tidaklah perlu lagi ada aksi semacam pembakaran rumah ibadah ataukah pembubaran
atas ritual-ritual keagamaan yang memiliki perbedaan dengan apa yang kita
yakini. Karena disaat kita melakukan kekerasaan disaat itu pula kita sudah
keluar dari nilai luhur agama kita Islam Rahmatan Lil-alamin yang
didasari oleh sikap kasih dan sayang. Demikian yang penulis dapatkan dari Gus
Abdurrahman Wahid.

Yap bro
BalasHapus