Jumat, 25 November 2016

Belajar Hidup Toleransi Dari Gus Dur dan Cak Nur


Saya yakin, bahwasanya secara teoritis didalam berkehidupan berkebangsaan telah mengetahui semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat atas perbedaan yang ada dan hadir disekitaran kita. Perbedaan yang ada baik itu perbedaan budaya,bahasa,dialek,warna kulit,wajah,dan agama adalah sebuah realita yang menjadi satu identitas dari sebuah negara yang bernama Indonesia.

Munculnya perbedaan-perbedaan tersebut tak terlepas dari letak geografis Indonesia yang berada pada jalur lintasan antara benua, bagaimana para pedagang dari Mediterania melakukan perjalanan ke Cina melalui Indonesia juga pun demikian sebaliknya sehingga terjadinya proses dialektika hubungan internasional. Selain itu sejak zaman abad 2 masehi daerah nusantara telah dikenal dengan Ptolemy yang berarti pulau emas sebagaimana tertulis pada kitab Algamest karangan penulis Yunani, yang menjadi daya tarik para pengusaha atau pedagang menuju ke Nusantara. Atas dasar itu kemudian beberapa diantara mereka melakukan pernikahan dengan orang Nusantara pda saat itu, sehingga saat in wajar jika masyarakat kita plural satu sama lain tidak sama atau berbeda karena secara historis Indonesia dulunya disinggahi oleh beberapa orang dari beragam bangsa yang ada dunia.

Bhineka Tunggal Ika, menjadi sebuah semboyan yang memiliki makna filosofis mendalam dan dapat menyatukan antara satu sama lain, antara si China dan si Arab, si Jawa dan Batak, Melayu dan Bugis juga Papua, serta aku dan kamu. Semboyan itu pula menginginkan agar bagaimana perbedaan tersebut dapat berjalan harmonis dan dipayungi atas dasar nasionalisme.Olehnya itu  keberagaman tersebut harus dijaga dengan baik jangan sampai kita membiarkan itu terpecah belah. Karena ini merupakan kekayaan bangsa Indonesia .

Dengan jumlah penduduk sebanyak 253,60 juta jiwa, Kita menjadi negara ke 4 berpenduduk terbanyak setelah China, India, dan Amerika Serikat. Dan dari jumlah penduduk yang besar itu Agama Islam menjadi agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia diharapkan dapat memberikan kedamaian dan ketentraman yang didasari oleh rasa cinta kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia atau yang dikenal guna mensyiarkan Islam Rahmatan Lil-Alamin.


Akan tetapi akhir-akhir ini, menurut penulis kehidupan bernegara kita seakan mulai renggang dan menjauh dari sikap toleransi satu sama lain, hal itu terjadi karena ada beberapa oknum-oknum yang belum secara kaffah  meresapi makna Bhineka Tunggal Ika  didalam kehidupan bernegara yang begitu plural ini sehuingga didalam kehidupan bermasyarakat ia cenderung kaku dan pasif.

Akhir-akhir ini bisa kita lihat dengan beberapa kasus pembakaran rumah ibadah, pengusiran penduduk dari kampung halaman karena berbeda  faham keagamaan, menghentian proses ibadah juga saling lempar maki-makian di media sosial antara penganut agama yang berbeda juga golongan yang memperlihatkan sikap kita yang bisa menerima adanya perbedaan dilingkungan sekitar.

Dengan itu, penulis mencoba untuk memberikan sebuah cara bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai orang muslim yang berangkat dari pemikiran Bapak Nurcholis Madjid dan Gus Abdurrahman Wahid. Dari Cak Nur saya belajar mengenai cara bersosial yang menurut penulis itu sangat baik dan aktual dengan saat ini, bahwasanya didalam kehidupan ini kita memiliki hubungan Teorentrisme yaitu bagaimana kita berhubungan Allah sebagai tuhan yang diyakini serta hubungan Antropolosentrisme bagaimana kita berhubungan dengan manusia. Saat kita berada dihadapan tuhan, menjadi barang yang final bahwa keyakinan kita Islam sebagai ajaran yang benar yang mewajibkan untuk mengimani Allah, adapun disaat ini bersama manusia kita harus mencari sebuah kebenaran yang sama bagaimana menciptakan sebuah tatatan kehidupan yang baik, harmoni, tanpa da rasa benci satu sama lain.


Dengan demikian, ketika tidaklah perlu lagi ada aksi semacam pembakaran rumah ibadah ataukah pembubaran atas ritual-ritual keagamaan yang memiliki perbedaan dengan apa yang kita yakini. Karena disaat kita melakukan kekerasaan disaat itu pula kita sudah keluar dari nilai luhur agama kita Islam Rahmatan Lil-alamin yang didasari oleh sikap kasih dan sayang. Demikian yang penulis dapatkan dari Gus Abdurrahman Wahid.

1 komentar: